Thursday, 26 January 2017

Serat Sri Papara

Download kitab Klasik ber aksara jawa
Serat Sri Papara




Wednesday, 18 January 2017

Serangan Mataram ke Batavia




Serangan ke kota Batavia, pusat VOC pada 1628 dan 1629 yang dilakukan Sultan Agung, raja Kesultanan Mataram bertujuan mengusir VOC dari Pulau Jawa.

Pada 1621, Kesultanan Mataram mulai menjalin hubungan dengan VOC. Kedua blah pihak saling mengirim duta besar. Ternyata, pihak VOC menolak membantu saat Kesultanan Mataram menyerang Surabaya. Penolakan VOC ini berakibat hubungan diplomatik dengan Kesultanan Mataram putus. Bebrapa tahun kemudian Sultan Agung memerintahkan pasukannya untuk menyerang Batavia yang menjadi markas VOC. Serangan pasukan Kesultanan Mataram ini mulai dilakukan pada 22 Agustus 1628. Awalnya pasukan Mataram mendarat di teluk Jakarta, dengan membawa sebanyak 59 perahu yang membawa 900 prajurit di bawah pimpinan Senopati Tumenggung Bahureksa dari Kendal. Empat bulan kemudian, tepatnya pada 3 Desember 1628 pasukan Kesultanan Mataram menuju Batavia.[1]



VOC yang sebelumnya bermarkas di Ambon, Kepulauan Maluku, mengirimkan utusannya untuk mengajak Sultan Agung agar mengizinkan VOC mendirikan loji-loji dagang di pantai Utara Mataram. Namun maksud VOC ini ditolak Sultan Agung. Pasalnya, bila pihak VOC diizinkan membuat loji-loji maka perekonomian di pantai Utara akan dikuasai oleh VOC. Alhasil, penolakan ini membuat hubungan Mataram dan VOC menjadi renggang.[2]

Pada 1619 VOC, berhasil merebut kota pelabuhan Jayakarta dari kekuasaan Kesultanan Banten. Kala itu Jayakarta merupakan kawasan Barat pulau Jawa yang belum ditaklukkan Mataram. Setelah VOC berhasil merebut kota Jayakarta kemudian mengganti namanya menjadi Batavia (Jakarta). Markas VOC pun dipindah ke kota Batavia. Menyadari kekuatan maskapai dagang asal Belanda tersebut, raja Mataram Sultan Agung mulai berpikir untuk memanfaatkan VOC untuk menghadapi Surabaya dan Kesultanan Banten.[3]
Sasaran Kesultanan Mataram sebelumnya adalah daerah Surabaya yang ada di bagian Timur Pulau Jawa. Lalu sasaran selanjutnya kawasan Banten yang ada di ujung Barat Pulau Jawa. Namun kenyataannya letak Batavia yang dekat dengan Banten menjadi penghalang sehingga perlu diatasi terlebih dahulu oleh Mataram. Pada April 1628, Kyai Rangga bupati Tegal dikirim sebagai utusan Mataram ke Batavia untuk menyampaikan tawaran damai dengan syarat-syarat tertentu. Namun, tawaran Mataram ini ditolak pihak VOC. Akibatnya, Sultan Agung memutuskan untuk menyatakan perang.[4] 



Serangan Pertama

Armada pasukan Mataram yang dipimpin Senopati Bahureksa, membawa sebanyak 150 ekor sapi, 5.900 karung gula, 26.600 buah kelapa dan 12.000 karung beras. Pihak Mataram menyampaikan hal ini sebagai alasan keinginan Mataram berdagang dengan Batavia. Namun kedatangan armada Mataram ini dicurigai pihak VOC. Hari berikutnya, VOC menyetujui sapi diturunkan, namun dengan syarat kapal Mataram hanya dip[erboleh menepi satu demi satu. Sekitar100 prajurit bersenjata dari garnisun Kasteel (benteng) keluar untuk menjaga-jaga.[5]
Hari ketiga, sebanyak tujuh kapal Mataram muncul lagi. Kali ini pihak Mataram beralasan ingin minta surat jalan dari pihak VOC agar dapat berlayar ke Melaka. Melihat situasi ini VOC, Belanda memperkuat penjagaan di dua benteng kecil utara dan menyiapkan artilerinya. Sore hari itu, sebanyak duapuluhan kapal Mataram menurunkan pasukannya di depan Kasteel. VOC pun terkejut dan buru-buru masuk benteng kecil. Sementara sejumlah kapal Mataram lain mendaratkan prajuritnya. Tak lama kemudian pasukan Mataram ini pun kemudian dihujani tembakan dari Kasteel.[6]

Pada 25 Agustus 1628, sebanyak 27 kapal Mataram lagi masuk teluk, namun berlabuh agak jauh dari Kasteel. Di sebelah selatan Batavia, prajurit Mataram mulai tiba, dengan panji perang berkibar. Pihak Kesultanan Mataram menyatakan keinginannya menyerang VOC, Belanda. Esok harinya, sebanyak 1.000 prajurit Mataram memasang kuda-kuda di depan Batavia. Pada 27 Agustus 1628, pasukan Mataram menyerang benteng kecil Hollandia yang terletak di sebelah tenggara kota Batavia. Satu kompi berkekuatan 120 tentara di bawah pimpinan Letnan Jacob van der Plaetten berhasil mematahkan serbuan pasukan Mataram, setelah terjadi pertempuran yang dahsyat. Sementara itu beberapa kapal VOC, Belanda datang dari Banten dan Pulau Onrust. Kapal-kapal ini mendaratkan sebanyak 200 prajurit. Kini Kasteel dipertahankan oleh 530 prajurit.[7]

Pasukan kedua Kesultanan Mataram tiba pada Oktober 1628, dipimpin Pangeran Mandurareja (cucu Ki Juru Martani). Total jumlah semua pasukan Mataram sebanya10.000 prajurit. Perang besar terjadi di benteng Holandia. Terjadilah pertempuran yang terbilang dahsyat. Namun sayanganya pasukan Mataram mengalami kekalahan karena kurang perbekalan. Menanggapi berita kekalahan pasukan Mataram ini Sultan Agung bertindak tegas. Pada Desember 1628, raja Mataram ini mengirim algojo untuk menghukum mati Senopati Tumenggung Bahureksa dan Pangeran Mandurareja. Pihak VOC menemukan 744 mayat orang Jawa berserakan, sebagian tanpa kepala karena dipenggal.[8] 

Serangan Kedua

Sultan Agung kembali menyerang Batavia untuk kali kedua pada 1629. Pasukan pertama dipimpin Adipati Ukur , yang berangkat pada Mei 1629, sementara pasukan kedua dipimpin Adipati Juminah berangkat pada Juni 1629. Jumlah total pasukan Mataram sebanyak 14.000 orang prajurit. Kegagalan serangan pertama diantisipasi dengan cara mendirikan lumbung-lumbung beras yang tersembunyi di Karawang dan Cirebon.[9] Namun pihak VOC tak kehilangan akal, mereka pun menggunakan mata-mata dan berhasil menemukan lumbung-lumbung beras itu. Pasukan VOC pun bergerak cepat dengan membakar semua lumbung beras itu. Musnahnya lumbung beras ini berakibat pasukan Mataram mengalami kekurang perbekalan. Terlebih lagi ketika pasukan Mataram akan menyerang Batavia timbul wabah penyakit malaria dan kolera yang menyerang para prajurit. Alhasil, kekuatan pasukan Mataram sangat lemah ketika sampai Batavia.[10]

Walaupun mengalami kekalahan lagi, serangan kedua pasukan Mataram ini berhasil membendung dan mengotori Kali Ciliwung. Tercermarnya Kali Ciliwung ini mengakibatkan timbulnya wabah penyakit kolera yang melanda Batavia. Gubernur Jenderal VOC yaitu Jan Pieterszoon Coen meninggal menjadi korban penyakit tersebut.[11] 

artikel referensi selengkapnya di  http://jakartapedia.bpadjakarta.net/



Bondan Kejawan Cikal Bakal Para Raja Mataram Islam







Bondan Kejawan adalah putra ke 14 Prabu Brawijaya, raja Kerajaan Majapahit terakhir dengan seorang Putri Wandan Sari, seorang dayang yang biasa melayani permaisuri Prabu Brawijaya, Dewi Dwarawati (Putri Campa).

Ketika putri Wandan Sari ini melahirkan anak dari benih Prabu Brawijaya, bayi tersebut diberikan kepada Ki Buyut Masahar dengan pesan agar bayi tersebut dilenyapkan. Prabu Brawijaya berpesan demikian, karena menurut ramalan para ahli nujum anak ini kelak akan membawa keburukan bagi Kerajaan Majapahit. Akan tetapi anak ini justru dipelihara oleh Ki Buyut Masahar.

Suatu ketika Ki Buyut Masahar menghadap ke Majapahit dan anak yang kemudian diberi nama Bondan Kejawan ini ikut. Ketika Ki Buyut Masahar sibuk dalam pisowanan, Bondan Kejawan justru memukul-mukul gong Kyai Sekar Delima yang menjadi salah satu pusaka Keraton Majapahit. Bondan Kejawan ditangkap dan dihadapkan pada Prabu Brawijaya. Ketika Prabu Brawijaya mengetahui hal itu Bondan Kejawan akan dihukum mati. Akan tetapi atas penjelasan Ki Buyut Masahar, Prabu Brawijaya kemudian tahu bahwa Bondan Kejawan adalah anaknya sendiri. Hukuman mati pun dibatalkan.

Setelah tahu bahwa Bondan Kejawan adalah anaknya sendiri maka Bondan Kejawan justru diberi hadiah berupa senjata pusaka, yang salah satunya adalah tombak Kyai Pleret.

Bondan Kejawan kemudian disuruh berguru kepada Ki Ageng Tarub.  Ki Ageng Tarub adalah Cucu Adipati Tuban,  Ibu Ki Ageng Tarub adalah  Dewi Rasa Wulan dan ayahnya adalah Maulana Maghribi. Setelah Ibu dan ayahnya bercerai Jaka tarub diasuh oleh Nyi Ageng Tarub.  Dan Ibu Jaka Tarub yaitu Dewi Rasa Wulan menikah  lagi dengan Empu Supa pembuat keris terkenal murid Sunan Kalijaga.

Ki Ageng Tarub yang dengan Dewi Nawangwulan memiliki putri bernama Nawangsih. Dengan Dewi Nawangsih ini kemudian dikawinkan dengan Bondan Kejawan . pernikahan Raden Bondan Kejawan dan Dewi Nawangsih mempunyai tiga orang Putra yaitu :
1.Ki Ageng Wanasaba
2.Ki Ageng Getas Pendawa
3.Nyai Ageng Ngerang / Roro Kasihan

1. Ki Ageng Wanasaba
Yang nama aslinya adalah Kyai Ageng Ngabdullah merupakan kakak kandung Nyai Ageng Ngerang yang pertama / sulung, yang sekarang makamnya ada di daerah yang bernama kabupaten Wonosobo, tepatnya di desa Plobangan Selo merto. Dalam masa hidupnya, Ki Ageng Wanasaba juga sebagai seorang Pemimpin yang yang hebat dan karismatik. Ki Ageng Wanasaba dikenal juga dengan julukan Ki Ageng Dukuh, akan tetapi desa Plobangan lebih dikenal dengan Ki wanu / Ki wanusebo. Perbedaan nama tersebut disebabkan dialek daerah Wanasaba tersebut terpengaruh oleh dialek Banyumas.

Ki Ageng Wanasaba dipercaya dan diyakini sebagai waliyullah, yang telah melanglang buana keberbagai tempat dalam rangka mencari ilmu sekaligus menyiarkan agama Islam. Ki Ageng Wanasaba merupakan cucu dari Prabu Brawijaya V, Raja Majapahit dan merupakan putra Raden Bondan Kejawan, Lembu Peten , putra Brawijaya V yang menikah dengan Nawangsih, dan Nawangsih sendiri putri dari Ki jaka Tarub yang menikah dengan Dewi Nawang wulan ( epos Jaka Tarub ).

Ki Ageng Wanasaba mempunyai Putra yaitu Pangeran Made Pandan, nama lain dari Ki Ageng Pandanaran. Pangeran Made Pandan mempunyai putra Ki Ageng Pakiringan yang mempunyai istri bernama Rara Janten. Dari pasangan ini mempunyai empat Putra yaitu Nyai Ageng Laweh, Nyai Ageng Manggar, Putri dan Ki juru Mertani.

Situs makam Ki Ageng Wanasaba saat ini dipugar, dikeramatkan dan dijaga dengan baik oleh warga sekitar. Lokasi situs ini sangat dihormati oleh masyarakat, karena KI Ageng Wanasaba merupakan tokoh penyebar agama islam dan sekaligus cikal bakal dari desa Plobangan Selomerto kabupaten wonosobo. Di sekitar makam Ki Ageng Wanasaba terdapat tiga makam kuno. Konon tiga makam itu juga merupakan pendahulu, seorang ulama yang sejaman dengan Ki Ageng Wanasaba.

2. Ki Ageng Getas Pendawa,
Yang nama aslinya adalah Kyai Abdullah atau yang disebut Raden Depok adalah saudara kandung beliau, Ki Ageng Getas Pendawa merupakan kakak kandung Nyai Ageng Ngerang yang kedua. Ki Ageng Getas Pendawa juga seorang yang hebat, berwibawa dan karismatik serta sangat sederhana dalam hidup dan kehidupan manusia.

Beliau juga seorang pemimpin yang tegas dan berwibawa, oleh karena itu beliau disebut Ki Ageng Getas Pendawa. Beliau sangat tangguh dan konon sangat kuat dalam riyadhoh / tirakat, mengolah batin untuk mendekatkan diri kepada Allah, dengan harapan bisa menenangkan diri dan dapat menyebarkan agama islam dengan ikhlas, tulus dan berhasil. Makam beliau juga dikeramatkan oleh warga sekitar. Makam Ki Ageng Getas Pandawa ada di desa Kuripan Purwodadi, Grobogan.

Ki Ageng Getas Pendawa mempunyai putra yang bernama Ki Ageng Sela, Nyai Ageng Pakis, Ki Ageng Purna. Ki Ageng Kare, Ki Ageng wanglu, Ki Ageng Bokong dan Ki Ageng Adibaya. Sedangkan Ki Ageng Sela mempunyai Putra KI Ageng Enis dan Ki Ageng Enis menurunkan putra yang bernama Ki Ageng Pemanahan. 


Baca Juga:
Download Gambar Karakter Majapahit
asal-usul-jaka-tingkir
asal-usul-sunan-kali-jaga
bondan-kejawan-cikal-bakal-para-raja Mataram Islam
Aneka-macam-batik-klasik-jawa




Tuesday, 17 January 2017

Asal Usul Sunan Kali Jaga




Ketika Raden Santibadra (Ayah Sunan Kalijaga) mengabdi ke Majapahit menjadi Tumenggung Wilwatikta (Mendikbud Majapahit) (1469), dia didampingi oleh Eyang Kakek Pandhita Na Wang I (adik dari Na Li Ni, istri Bi Nang Un). Selain Na Wang I, Raden Santibadra juga dipanakawani oleh Gin Hong, Kecruk, dan Palon.
Raden Said  kecil masih berumur 2 tahun ketika ditinggal bapaknya, Empu Santibadra mengabdi ke Majapahit. Selanjutnya pada umur 19 tahun  Raden Said muda pergi ke Tuban berguru  Agama Islam pada Kakeknya dari pihak Ibu, yaitu Adipati Tuban Arya Adikara yang juga disebut sebagai Sunan Bejagung.

Adipati Arya Adikara tidak mempunyai Anak laki-laki,  anak  Sulungnya bernama Dewi Sukati  Ibu Raden Said dan yang kedua adalah   Dewi Rasawulan.  Maka  walaupun  Raden Said   adalah  cucu Adipati Adikara, tetapi diangkat anak oleh Adipati Adikara dan kemudian terkenal  dimana-mana bahwa  Raden Said adalah Putra Adipati Tuban Arya Adikara.

Pada saat remaja Raden Said melihat kesenjangan sosial yang tinggi dalam masyarakat, maka beliau bermaksud  diam diam menolong rakyat kecil  sebagai pahlawan bertopeng yang terkenal sebagai Berandal Lokajaya.  Beliau merampok orang kaya dan membaginya dengan orang miskin. hal ini dilakukannya sampai bertemu dengan sunan Bonang yang menyadarkannya bahwa menolong rakyat kecil dengan harta rampokan adalah salah dan tidak memberi  perbaikan apapun  dalam mengatasi masalah sosial yang ada.

Kemudian Raden Mas Said berguru kepada Sunan Bonang dan  setelah lulus  mendapat gelar sebagai Sunan Kalijaga.  Dengan latar belakang keluarganya yang sangat kental dengan budaya, Sunan Kalijaga berdakwah melalui pendekatan budaya yaitu melalui wayang dan juga menciptakan beberapa lagu tembang-tembang sufistis yang kental dengan nuansa budaya jawa.

Punakawan Semar Gareng Petruk dan Bagong dikenal luas sebagai tokoh-tokoh buatan Sunan Kalijaga, dimana tokoh -tokoh ini terinspirasi dari orang -orang terdekat dimasa kecil Raden Said di Lasem. Keberadaan Gin Hong, Kecruk, dan Palon di Lasem adalah 8 tahun sebelum Raden santikusuma belajar agama kaRasulan ke Tuban. Dengan demikian Raden Santikusuma punya cukup waktu untuk belajar dan bercengkrama dengan ketiga panakawan itu, namun tentang Eyang Pandhita Na Wang I dia hanya mendengar ceritanya saja. Beliau banyak menggunakan unsur budaya dalam melakukan dakwah, maka tidak menutup kemungkinan dia yang mempermak cerita gara-gara dengan menghadirkan tokoh Gareng, Petruk dan Bagong yang karakternya terinpirasi dari pengabdian Gin Hong, Kecruk, dan Palon kepada Bapak dan kakaknya. Penghormatan yang tinggi kepada Eyang Pandhita Na Wang I disisipkan dalam pewayangan sebagai Semar. Informasi yang terbatas (samar-samar) dan mitos semar yang begitu melegenda di tanah Jawa menjadi suatu alasan yang kuat untuk menggunakan karakter Eyang Pandhita Na Wang I dengan nama Semar.

Meskipun Raden Mas Said punya peluang  besar menggantikan kakeknya menjadi Adipati Tuban, beliau tidak tertarik. Pengganti Arya Adikara adalah sepupu Sunan Kali jaga yaitu Anak dari Dewi Rasawulan dengan Empu Supa. yaitu Raden Sahur.   Dewi Rasawulan  Sebelumnya pernah menikah dengan Maulana Maghribi tapi bercerai dan punya anak Jaka Tarub yang di asuh oleh Nyi Ageng Tarub. sedangkan Empu Supa sendiri adalah  seorang pembuat keris terkenal yang juga murid Sunan Kalijaga.

Silsilah Sunan Kalijaga:
Tribhuwana Tunggadewi yang menikah dengan Kertawardhana ->Dewi Indu atau Bhre Lasem I yang menikah dengan Rajasawardana atau Bhre Matahun -> Pangeran Badrawardana, -> RM Wijayabadra-> R Badranala. Yang menikah dengan Putri Cempa Namanya Bi Nang Ti -> R Santibadra. yang menikah dengan Sukati Putri dari Adipati Tuban -> RM Santikusuma atau RM Said atau Sunan Kalijaga (1468).
sumber: https://slamethdotkom.wordpress.com/tag/majapahit/

Baca Juga:
Download Gambar Karakter Majapahit
asal-usul-jaka-tingkir
asal-usul-sunan-kali-jaga
bondan-kejawan-cikal-bakal-para-raja Mataram Islam
download buku siswa kurikulum 2013



Asal Usul Jaka Tingkir



Samarkand di Asia tengah dikenal sebagai daerah Islam yang menelorkan ulama-ulama besar seperti sarjana hadist terkenal yaitu Imam Bukhari yang mashur sebagai perawi hadits sahih.
Di Samarqand ini ada seorang ulama besar bernama Syekh jamalluddin Jumadil Kubra, seorang Ahlussunnah , beliau mempunyai seorang putra bernama Ibrahim. Karena berasal dari Samarqand maka Ibrahim kemudian mendapat tambahan Samarqandi sehingga menjadi Ibrahim Samarqandi . Orang jawa sangat sukar mengucapkan Samarqandi maka mereka hanya menyebutkan sebagai Ki Hajar Asmorokandi.
Ki Hajar Asmorokandi ini diperintah oleh ayahnya yaitu Syekh Jamalluddin Jumadil Kubra untuk berda’wah ke negara-negara Asia. Perintah ini dilaksanakan, dan beliau kemudian diambil menantu oleh raja Cempa, dijodohkan dengan putri raja Cempa yang bernama Dewi Candrawulan.Dari perkawinannya dengan Dewi Candrawulan maka Ibrahim Asmarakandi mendapat dua orang putra yaitu Raden Rahmat atau Sayyid Ali Rahmatullah dan raden Santri atau Sayyid Alim Murtolo.

Sedangkan adik Dewi Candrawulan yang bernama Dewi Dwarawati diperistri oleh Prabu Brawijaya Majapahit. Dengan demikian Raden Rahmat itu keponakan Ratu Majapahit dan tergolong putra bangsawan atau pangeran kerajaan. Raja Majapahit sangat senang mendapat istri dari negeri Cempa yang wajahnya tidak kalah menarik dengan Dewi Sari.
Sehingga istri-istri lainnya diceraikan, banyak yang diberikan kepada para adipatinya yang tersebar di seluruh Nusantara.


Salah satu contoh adalah istri yang bernama Dewi Kian, seorang putri China yang diberikan kepada Adipati Ario Damar di Palembang beserta Anaknya yang dikemudian hari menjadi Sultan Demak.


Dewi Dwarawati kemudian bergelar Ratu Dwarawati. Beliau mempunyai Putri yang bernama Ratu Pembayun, yang kemudian menjadi Istri Adipati Handayaningrat di Pengging.

KERAJAAN PENGGING (1498-1518 M)


Kerajaan Pengging dipimpin oleh Prabu Handayaningrat suami dari  Ratu Pembayun  yang merupakan putri dari Sri Kertabhumi dari Majapahit.  Kerajaan pengging  penduduknya sebagian besar adalah peternak kerbau. mereka menggembalakan ternaknya menggunakan  kuda . Rakyat pengging tergolong kaum pemberani . Prabu Handayaningrat tidak mengakui kerajaan Demak dan  bersama rakyat pengging melakukan pemberontakan terhadap demak, namun  Demak mempunyai pasukan yang lebih banyak akhirnya pemberontakan berhasil diredam.  Prabu Handayaningrat Wafat dan  mempunyai  tiga orang putera yaitu Kebo Kanigara, Kebo Kenanga dan Lembu Amiluhur.  Karena Kebo Kanigara tidak tertarik untuk menjadi Adipati, maka Kebo Kenanga menggantikan menjadi Adipati.

Maka Kebo Kenanga dilantik menjadi Adipati bergelar Prabhu Hudhara  (1498-1518)
Kebo Kenanga Masuk Islam aliran Syech Siti Jenar, Sedangkan Kakaknya yaitu  Kebo Kanigara tidak suka dengan kepercayaan Syech Siti Jenar dan tetap memeluk Hindu, Kebo Kanigara memutuskan berpisah dan bertapa di hutan.(versi lain menyebutkan Kebo Kanigara masuk Islam, tapi bukan aliran Syeh Siti Jenar dan bergelar Ki Ageng Banyubiru)

Ki Ageng Pengging / Kebo Kenanga, yang masih berusia 21 tahun, sangat muda, menawarkan daerah Pengging sebagai pesantren Syeh Siti Jenar. 
Tahun 1497 Masehi, Sunan Giri, atas nama Pemimpin Dewan Wali Sanga, memerintahkan Sultan Demak dan Sultan Cirebon, yang tak lain Sunan Gunungjati, dan mereka berhasil menumpas ajaran Syeh Siti Jenar dan keluarga Pengging.

Mas Karebet, Putra Ki Ageng Pengging berhasil diselamatkan karena sedang diasuh Nyi Ageng Tingkir.  Waktu berlalu  dalam asuhan Nyi Ageng Tingkir  Mas Karebet berubah namanya menjadi Jaka Tingkir . Jaka Tingkir pada masa anak-anak oleh Nyi ageng tingkir disuruh belajar mengaji kepada Ki Ageng Selo, mantan murid Syeh Siti Jenar yang sudah bertobat. Jaka Tingkir juga bersahabat dengan cucu Ki Ageng Selo yaitu Pemanahan dan seorang lagi bernama Penjawi.  Saat Remaja  ketiga sahabat tersebut  bekerja sebagai  tukang getek, yaitu alat penyeberangan tradisional tebuat dari kayu  atau bambu yang di susun  untuk sarana penyeberangan sungai.  Jaka tingkir tingkir tidak pernah minta bayaran melainkan minta cium kepada ibu ibu yang menyeberang, itulah maka Jaka tingkir jadi bahan olok-olok teman-temannya dan muncul lagu "sang getek sinambi mbajul...".

Nyi Ageng Tingkir Sangat malu pada kelakuan Jaka Tingkir, maka Jaka Tingkir  dititipkan ke kakak Nyi Ageng Tingkir Yaitu Ki Ganjur  yang menjabat  Lurah Kaum ( Kepala pengurus masjid Istana Demak Bintoro).

Jaka Tingkir kemudian terdaftar menjadi Prajurut. Karirnya melejit dari prajurit biasa, menjadi "Lurah Wiratamtama",  Tapi kemudian dipecat karena membunuh calon prajurit bernama Danungawuk dalam ujian masuk prajurit.

Jaka Tingkir kemudian melanjutkan pendidikan di pesantren Ki Ageng Banyubiru (yang Konon adalah Ki Ageng Kebo Kanigara, Uwaknya). Setelah lulus, Jaka Tingkir diangkat menjadi Adipati Pajang bergelar Adipati Adiwijaya. Ia juga menikahi Ratu Mas Cempaka, putri Sultan Trenggana.

KERAJAAN PAJANG (1547 M)


Setelah Sultan Trenggana wafat, Sunan Prawoto, 1546, naik takhta, tapi kemudian tewas dibunuh Arya Penangsang (sepupunya di Jipang) tahun 1549. Arya Penangsang juga membunuh Pangeran Kalinyamat, menantu Sultan Trenggana yang menjadi Adipati Jepara.


Setelah peristiwa tahun 1549 tersebut, Ratu Kalinyamat menyerahkan takhta Demak kepada Adiwijaya. Pusat kerajaan tersebut kemudian dipindah ke Pajang dengan Adiwijaya/Jaka Tingkir sebagai sultan pertama.

Adiwijaya mengadakan sayembara. Barangsiapa dapat membunuh Arya Penangsang akan mendapatkan tanah Pati dan Mataram sebagai hadiah. Sayembara dimenangi Danang Sutawijaya, cucu Ki Ageng Sela juga putera Ki Ageng Pemanahan. Dalam perang itu, Ki Juru Martani (kakak ipar Ki Ageng Pemanahan) berhasil menyusun siasat cerdik sehingga menewaskan Arya Penangsang di tepi Bengawan Sore.

Baca Juga:
Jadwal-radio-streaming-wayang-kulit di Radio-radio Jogja
asal-usul-jaka-tingkir
asal-usul-sunan-kali-jaga
bondan-kejawan-cikal-bakal-para-raja Mataram Islam
Download-Gambar-Karakter Figur  majapahit
Aneka Anti Virus Gratis 2017.







Tuesday, 3 January 2017

Prasasti Sdok Kak Thom, dokumen kemerdekaan Kamboja dari kekuasaan Jawa.


Prasasti Sdok Kak Thom,  Di buat  pada masa Jayawarman II, sebagai peringatan Kemerdekaan Kamboja  dari kekuasaan  Jawa. Setelah sekian lama Kamboja menjadi daerah bawahan Jawa maka  pada masa Jayawarman II, Kamboja menjadi negara merdeka.

Nomor Katalog : K. 235
Masa : 974 Śaka = 1052 Masehi
Lokasi : Sa Kaew province, Thailand (about 3 kilometers from the Cambodia frontier)
Terdiri dari 340 baris (194 sanskrit, 146 Khmer (29 baris di K 235 C;117 baris di K 235 D))
Prasasti ini ditemui di Phnom Sandak di Preah Vihear bertarikh 1052 Masehi, dan ditulis dalam Bahasa Sanskrit dan Khmer. 

man vrāhmaṇa jmaḥ hiraṇyadāma prājña siddhividyā mok aṃvi janapada.   pi vrah 
pāda parameçwara añjen thve vidhi leha leṅ kam pi kamvujadeşa neḥ āyatta ta javā
 ley,   len āc ti kamrateṅ phdai karoṃ   mvāy guḥ ta jā cakravartti.   vrāhmaṇa noḥ thve 
vidhi toy vraḥ vināçikha pratiṣṭhā kamrateṅ jagat ta rāja vrāhmana noḥ payyaρn vraḥ 
vināçikha.   nayottara.   saṃmoha.   çiraçcheda.   syaṅ man svat ta mukha cuṅ pi sarsir pi 
paryann steṅ añ çivakaivalya nu gi


Terjemahan bebas:

Kemudian seorang brahmana bernama Hiranyadáma, yang terpelajar dalam mantra yang memberikan Siddhi, berasal dari rakyat. Yang Mulia Paramesvara [kemudian menjadi Jayavarman II] meminta dia untuk melakukan ritual agar tanah Kambuja (Kambujadesa) seterusnya tidak lagi menjadi bawahan Jawa dan sehingga hanya satu raja yang menjadi penguasa umum [untuk wilayah mereka]. brahmana yang melakukan ritual [sampai berakhir] mengikuti Vinaisikha terhormat dan mendirikan Kamraten Jagat ta Raja (= DevaRaja). brahmana [kemudian) mengajarkan Vinasikha,  Nayottara,  Sammoha dan Siracheda. Dia bacakan mereka dari awal sampai akhir sehingga mereka bisa ditulis, dan mengajar mereka untuk Sivakaivalya.


R.C Majumdar telah menterjemah prasasti ini seperti berikut:

menyatakan bahwa Raja Jayavarman II, yang datang dari Jawa untuk memerintah Kota Indrapura, melaksanakan satu perayaan keagamaan supaya Kambujadesa(Indochina/Kamboja & vietnam) tidak lagi terletak dibawah takluk Jawa. Kerana Jayavarman II memerintah dari tahun 802 – 869 Masihi. Ini bermakna negara Khmer telah merdeka dari pengaruh Jawa hingga akhir abad ke-8. Seterusnya ia kekal merdeka.


Download File Lengkap file Prasasti Sdok Kak Thom:

Serangan Dari Jawa atas Kamboja juga tercatat pada Prasasti  Yang Tikuh yang dileluarkan oleh Inderawarman  787 Masehi.
Hal ini diperkuat oleh catatan  saudagar dari arab tentang serangan Raja dari Zabag atas Kambuja tahun  851 M.

Lihat Juga:
Prasasti Asia tenggara:


Candi-candi Asia Tenggara:



Baca Juga:
Aksara Kawi atau Pallava yang lebih tua

__________
How to Share your link and make money with Adf.ly
Download-buku-pelajaran-siswa-kurikulum 2013





Hijab Persegi

Hijab Persegi
Jilbab Persegi